GPS : Global Positioning System vs Global “Pitakonan” System

Teknologi saat ini kian merasuki tiap detail kehidupan manusia. Hampir semua hal dapat dilakukan dengan lebih mudah dengan adanya teknologi. Teknologi ini sampai sekarang masih mengalami perkembangan melalui penelitian-penelitian terbaru para akademisi dan praktisi ahli. Teknologi baru yang tiap saat ditemui di masyarakat memang memanjakan mata, tangan, kaki, hingga perasaan (ealah). Begitu pula dengan GPS, si alat pemberitahu posisi kita saat ini. Belum pernah dengar dan memakai GPS? Ah elah ga kekinian lu sob!

GPS merupakan singkatan dari Global Positioning System yang berfungsi untuk mengetahui posisi kita di permukaan bumi dengan bantuan sinyal satelit. Selain untuk mengetahui posisi, sinyal gelombang mikro yang dikirimkan oleh satelit-satelit juga difungsikan untuk mengetahui arah, kecepatan, dan waktu. GPS ini mengenal istilah akurasi atau ketepatan dalam membaca lokasi kita. Misalnya, alat yang kita gunakan menunjukkan titik posisi kita dengan akurasi 2 meter, artinya posisi kita sebenarnya dapat berada dimana pun dalam radius 2 meter dari titik koordinat posisi kita yang ditunjukkan oleh alat. Besarnya akurasi ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kondisi geografis, sinyal yang memantul, gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan oleh gelombang, kaca film mobil, hutan, air, gedung-gedung, dan jumlah satelit.

Perkembangan di dunia geospasial yang semakin dekat dengan masyarakat saat munculnya Google Maps yang dapat memetakan keadaan fisik maupun sosial dari permukaan bumi (kenampakan existing). Peta (Google Maps) ini dapat diakses dengan adanya koneksi internet dengan toponimi (keterangan/nama dari tiap objek di permukaan bumi) yang cukup lengkap. Peta digital buatan Google ini kemudian dapat dikombinasikan dengan GPS yang terdapat pada smartphone sehingga selain dapat melihat peta di permukaan bumi, pengguna (kita) dapat mengetahui posisi kita pada peta tersebut. Hebat kan? Haha. Bahkan oleh kemampuan smartphone , kita dapat diberitahu rute perjalanan dari posisi kita ke posisi yang ingin kita kunjungi. Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, Google Maps ini menyimpan database toponimi (nama tempat) yang “cukup” lengkap walau masih ada beberapa yang perlu diupdate kembali.

Lalu apa itu Global “Pitakonan” System? Pitakonan dalam bahasa jawa berarti “pertanyaan”. Istilah ini saya dengar dari seseorang yang sangat saya hormati. Global Pitakonan System ini adalah cara tradisional yang sering digunakan dulunya – dan beberapa orang hingga sekarang. Global Pitakonan System ini menggunakan kemampuan bertanya dengan mengajukan pertanyaan (pitakonan) ke masyarakat sekitar lokasi yang ingin kita cari. “Permisi, pak.. maaf mengganggu Pak, kalau boleh tau jalan menuju Desa Rambutan yang mana ya pak? — oh, kesana mas lurus aja trus perempatan belok kanan 50 meter trus belok kiri, mentok belok kanan, trus pertigaan belok kiri, trus lurus aja sampai perempatan lagi belok kiri, nah itu Desa Melati. Desa Rambutan sebelahnya Desa Melati, mas ntar tanya-tanya orang di Desa Melatinya lagi saja — oh oke pak, terimakasih banyak ya pak” kira-kira seperti itu lah percakapan yang terjadi dengan menggunakan Global Pitakonan System, oleh karena itu Global Pitakonan System dapat disebut pula Global Pertanyaan System.. hehe.

Global Pitakonan System ini tentunya tidak se”kekinian” Global Positioning System.. hehe. Penggunaan Global Positioning System jauh lebih efektif dalam segi waktu dan mungkin keterpercayaan (walau beberapa tempat masih memiki nama yang salah. Beberapa rute juga masih memiliki network analysis yang salah. Global Pitakonan System tidak dapat dipungkiri lebih memakan waktu. Harus turun dari kendaraan, melakukan pembicaraan dengan orang yang tidak dikenal. Ada kemungkinan pula orang yang ditanyai memberikan jawaban/arah yang disengajai salah agar kita tersesat — ini sungguh terjadi. Namun, sadarkah kita? Dengan ini interaksi kita antar manusia secara langsung (face to face) semakin sedikit.

Interaksi manusia tanpa kita sadari telah semakin berkurang. Kalau dulunya ingin menyampaikan pesan yang penting ke saudara di kampung sebelah mau ga mau datang kee rumahnya. Sekarang? sudah ada yang namanya short message service atau yang sering disebut SMS. Mau dengar suaranya langsung? bisa telpon. Kangen lihat wajahnya? bisa video call! Pesan makanan? delivery aja. Mau beli barang? bisa belanja online loh tanpa ketemu pemilik toko. Semua serba efektif, gampang, dan tanpa berinteraksi banyak dengan orang lain. Individualistis tiap orang semakin berkembang dalam dirinya masing — yaa ini bukanlah musibah bagi seseorang seperti saya yang introvert, tapi ini musibah bagi masyarakat global — saya juga masyarakat global, masyarakat dunia. Teknologi telah berhasil menghubungkan tiap orang dalam jarak tak terkirakan dengan aplikasi media sosial yang sekarang tengah beredar. Tapi, teknologi lah yang memisahkan orang dalam jarak yang dekat. Bijaksanalah menggunakan teknologi. Be Wise Be Smart ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s