Rasa yang mentah

Semalam, untuk kesekian kalinya aku mendengar tangismu lewat tulisan di dunia virtual ini tentang dirinya. Dirinya yang selalu membuatmu nyaman, senang, dan katamu kamu telah menolak sederetan manusia karna kembalinya dia ke dalam duniamu. Seketika mendengar tangismu malam itu, aku terdiam dua detik untuk memikirkan kata-kata untuk menghibur hatimu itu. Namun, dua detik kemudian pula, aku mendadak membenci yang namanya cinta. Entahlah, aku serasa ingin marah ke dirimu yang terlalu mencintai dia sehingga membuatmu menangis. Sekuat itukah cinta?

Cinta bukanlah kata yang asing di umur kita saat ini, cinta selalu berada di sekitar kita. Mungkin memang sampai saat ini aku belum pernah merasakan yang namanya cinta sejati. Tiap kenangan membuatku salah persepsi. Aku memiliki banyak kenangan dengan banyak sahabatku termasuk kamu yang terkadang membuatku bertanya apakah ini cinta? Aku terlalu nyaman dengan kalian, sampai banyak waktu dimana kalian tidak membalas chatku, aku merasa kesepian.  Atau ketika kalian sedang stress dan sibuk, membalas chat basa-basiku dengan nada jengkel, saat itu aku merasa sakit hati dan kecewa seakan ditolak cintanya.

Aku selalu berusaha tegar dan meyakinkan diriku bahwa ini tidak mungkin yang namanya cinta. Aku juga selalu meyakinkan diriku bahwa ini bukan friendzone ala-ala sinetron kekinian. Cinta tidak mungkin dapat tumbuh hanya dari curhat, basa-basi, diskusi yang rada ilmiah via dunia maya. Tapi, entah apa yang membuat chatmu ke diriku selalu membuat hariku terasa ada. Semakin lama aku semakin merindukan chatmu kepadaku. Sampai terkadang aku terpaksa pura-pura ngeshare kisah lucu buat kita berdua dari suatu akun official. Aku selalu mengirimkan chat-chat bodoh hanya untuk mendapatkan chat darimu. Apakah ini cinta?

Rasa seperti ini bukanlah pertama kalinya aku rasakan setelah dirimu datang ke duniaku. Aku sudah sejak lama merasakan ini dengan sahabatku yang lain yang lebih dulu datang. Aku merasakan hal yang persis sama. Hingga pada akhirnya, akhir-akhir ini aku sudah mulai lupa rasa menunggu chat darinya.. semenjakku sering menanti chat darimu. Kau tau? terkadang ketika begitu banyaknya tumpukan chat yang masuk ke akunku, dari grup-grup chat penting, grup chat para jomblo yang butuh notifikasi, teman yang lagi butuh bantuan, teman yang nanyain kabar, grup kepanitiaan, dan chatmu , – aku selalu memprioritaskan chatmu untuk dibaca terlebih dahulu. Atau bahkan pernah suatu saat aku tidak ingin membuka lineku walau ada notifikasi dari teman dan grup-grup chat yang ada sampai aku tau chat darimu baru saja sampai di akunku.

Aku sangat yakin rasa ini jika terus-terusan ditanam dalam hati akan berbuah menjadi cinta. Rasa yang saat ini aku rasakan adalah rasa yang mentah. Aku tidak tau bagaimana perasaanmu kepadaku – yang aku yakin kamu punya rasa yang mungkin berbeda -sehingga membuatmu nyaman curcol denganku via dunia maya. Aku yakin itu. Namun biarkanlah rasa ini membusuk sebelum berbuah, biarkan rasa persahabatan yang ada di antara kita menjadi rasa yang selalu ada tiap kali kita bertemu hingga tua nanti ~

Advertisements

2 thoughts on “Rasa yang mentah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s