Tangisan, Cinta, dan Mimpi

Sering kali aku mendengar suara itu. Suara yang membuat rasa ingin tahu itu muncul. Suara-suara yang terdengar sedang bahagia. Tertawa. Memang mereka sedang tertawa, tetapi yang aku maksud mereka yang disana, yang sedang merayu satu sama lain. Huft andai saja aku bisa seperti itu. Sedangkan aku cuma bisa merasakan tusukan jarum di hati. Aku sering merasa aku diciptakan sangat spesial hingga dapat merasakan itu. Aku yakin orang-orang lain jarang atau bahkan tak bisa merasakannya. Tak pernah ada kebahagiaan yang pernah kurasakan secara utuh. Kejadian itu bermula saat aku genap berumur 7 tahun. Hari itu adalah hari ulang tahunku. Aku diajak papa dan mama pergi ke suatu tempat yang belum pernah ku kunjungi dan mereka merahasiakannya dariku.

“Kita kemana Ma?”

“Ada deh sayang… Kamu pasti senang sekali… kalau kita nanti sampai disana, mama janji kamu bakal teriak-teriak saking senangnya.”

“Ready Ma??” tanya papa ke mama dengan semangatnya.

“Sabaar ya Pa, mata Lita belum ditutup” jawab mama sambil mengambil sapu tangan warna biru dongker dari tasnya.

“Mata Lita kenapa ditutup Ma?”

“Yaaaa.. supaya kamu tidak bisa menerka kita itu mau kemana… supaya nanti jadi kejutan gitu deh buat Lita..” jawab mama sambil menutup mataku dengan sapu tangan dan mengikatnya dibelakang kepalaku.

Aku sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Tak lama kemudian terdengar suara mobil dihidupkan dan kami bersiap untuk berangkat. Aku merasa risih dengan saputangan yang menghambat pandanganku dan aku sangat penasaran untuk melihat jalan-jalan yang kami lewati. Kemudian dengan kasarnya aku menarik-narik saputanganku sambil merengek.

“Lita, sabar dikit kenapa sih”

“Maaa,, lepasin…lepasin”

“Ntar kamu bosan lagi karna uda tau kita bakalan kemana” sahut papa yang sedang menyetir mobil.

“Engga kok pa,, Lita gak bakalan bosan kok. Lita Cuma mau main sama barbienya Lita” bantahku

Dengan terpaksa mama pun melepaskan saputangan yang terikat di kepalaku. Aku pun merasa lega.

“Udah puas kamu?” tanya papa

“Kamu sih gak sabaran banget” sela mama

Ketika aku asik dengan boneka barbieku, salah satu tangan mama yang memelukku terlepas dan mengarah ke papa yang lagi menyetir dan tiba-tiba terdengar teriakan mama.

“Awas Paaaa!!!!!”

***

Setelah itu aku merasa diriku tak ada, aku tak ingat apa-apa dan itu sepertinya terjadi lama sekali. Dan kemudian aku terbangun dan menemukan diriku terlentang tapi aku tak tahu aku ada dimana. Semua gelap! Aku berpikir aku mungkin sudah mati. Aku berpikir bahwa aku sekarang sedang berada di neraka yang menakutkan yang dipenuhi hantu-hantu yang siap membakarku karena aku sering sekali melawan papa dan mama. Jantungku berdegup keras, tangan dan kakiku mulai kedinginan, air mataku langsung menetes perlahan.

“Ya Tuhan maafkan Lita, jangan masukkan Lita di neraka ya Tuhan” jeritku dalam hati.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang dibuka dan derap langkah seseorang. Bukan! Bukan hanya seorang! Itu banyak! Sepertinya itu memang hantu-hantu penghuni nraka yang pernah diceritakan mama setiap kali aku mau tidur. Lantas aku pun berteriak sekuat tenaga.

“Tolonggggg!!! Mama!! Tolongin Lita!!! Papa! Kalian dimana?”

Kemudian tubuhku merasa disuntik. Dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Oh! Kepalaku pusing, aku tidak ingat lagi sekarang hari apa. Dan yang aku tahu, aku masih berada ditempat yang sama, di neraka! Tidak! Ini tidak sama dengan neraka yang sebelumnya! Kasurnya tidak seempuk neraka semula! Jangan-jangan aku sekarang berada di neraka paling mengerikan di bumi ini! Oh tidak! Aku ingin berteriak, namun aku mendengar seseorang masuk.

“Mama? Papa? Ma, ini dimana? Kenapa gelap? Kita sedang di neraka ya ma?

“Lita..” terdengar suara seorang perempuan yang tak ku kenal namun aku merasa suara itu sangat nyaman. Ini jelas berbeda dengan suara mama yang membuat aku senang. Suara yang satu ini membuatku nyaman dan tenang.

“Mungkin malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menjemputku ke surga” pikirku dalam hati.

“Kamu makan dulu ya Lita, infusmu sudah dilepas, jadi kamu harus makan. Ntar kamu masuk angin lagi” kata perempuan itu.

Ini bukan malaikat, sekarang aku juga bukan di neraka, jadi aku dimana?

“Buk, Lita ada dimana? Lita bukan di neraka kan? Papa mamanya Lita mana? Kok mereka gak pernah jumpai Lita?”

“Bukan kok Lita, ini rumahnya ibuk, papa mama Lita uda pergi jauh” jawab perempuan itu.

“Loh kok rumah ibuk gelap ya? Papa mama kok gak ngajak Lita? Papa mama dengan Lita kan mau pigi ke suatu tempat untuk rayain ulangtahunnya…” tiba-tiba aku terdiam dan menangis. Teringat kembali ketika mama berteriak. Aku tidak bisa menerimanya. Tidak mungkin terjadi padaku kejadian seperti sinetron-sinetron yang sering ditonton mama di TV. Aku pikir itu hanyalah cerita yang tak akan pernah terjadi di bumi ini.

“Ah Lita gak percaya papa mama uda pergi, sebelum pergi papa mama pasti pamit dulu sama Lita. Ibuk kok misahin Lita sama papa mama sih” Aku kemudian membalikkan badanku dan menangis. Aku terus menangis tiada henti. Aku bahkan tidak merasa lapar dan yang aku lakukan hanyalah menangis. Dan tak ku sadari aku baru saja terbangun dari tidurku, dan aku mencoba mengingat kembali mimpi indahku berjumpa dengan mama dan papaku. Kata mereka aku harus tetap semangat dan pantang menyerah. Entah mengapa maama dan papa katakan itu, aku tidak mengerti. Kemudian terdengar kembali suara derap langkah seseorang mendekatiku.

“Gimana perasaanmu? Kamu lapar? Uda tiga hari lo kamu semenjak tinggal disini belum makan..” jawab ibuk itu sambil tersenyum. Ya tersenyum. Itu yang ada dibenakku. Ibu itu berkata-kata kepadaku dengan senyuman tulus. Ntah, aku malah tersenyum juga membalas ucapan ibu itu, padahal aku tidak melihatnya, yang aku lihat hanyalah kegelapan.

“Buk, kok rumah ibu gelap?” tanyaku untuk memastikan sesuatu.

“Mmmm, menurut kamu gimana?”

“Kok menurut aku? Rumah kan rumah ibu, jadi yang tau ya cuman ibu”

(menghela nafas)”Itu cuman pandangan kamu saja. Coba pakai hati kamu, rasakan apa yang ada di kamar ini.” jawab ibu itu

Aku kebingungan dengan kata-kata ibu itu. Kemudian aku coba pejamkan mataku, walaupun agak konyol bagiku, tapi aku mencoba merasakan apa yang ada di kamar itu.

“Mmmm, aku merasakan kamar ini besar, ada bunga-bunga. Kamarnya bersih dan…. Aku mencium ada bau pantai. Ini di pantai ya bu” kataku denganpolosnya.

“Hmmmm,, kalau begitu kamu makan dulu” jawab ibu.

“Loh, yang aku bilang tadi benar gak buk?”

“Ya,, makan dulu, ntar ibuk kasi tau” jawab ibu itu.

***

Ya, itulah awal dari deritaku saat ini,  sekarang aku menempuh pendidikan di sekolah yang luar biasa katanya. Disana aku mengenal huruf braille yang hebat sekali menurutku. Itu sangat membantuku untuk mengumpulkan ilmu. Aku sudah lama tahu bahwa aku ini “buta”, hanya saja ibu tak tega memberitahuku itu dan aku tahu itu. Tetapi seperti kata mama dan papaku aku tidak boleh menyerah dan tetap semangat.

Oh iya, ini adalah episode baru dalam hidupku aku baru saja masuk hari pertama di sekolahku dan katanya setara dengan Sekolah Menengah Atas untuk anak-anak yang tidak luar biasa seperti kami. Dan katanya, sekarang aku sudah memasuki masa remaja yang penuh dengan cenat-cenut itu. Oh iya, ada lagi, aku belum pernah kasi tahu nama lengkapku bukan? Nama lengkapku adalah Pelita. Itulah nama asliku yang diberikan kedua orangtuaku. Semenjak aku berada dirumah ibu Rinto, namaku menjadi Pelita Sesma. Sesma itu senyum semangat, jadi kata ibu Rinto aku harus selalu senyum dan semangat kalau mau hidup di dunia ini. Dan pelita sendiri harus selalu menjadi terang dan penuntun bagi sesama. Lah, gimana aku bisa menjadi penuntun, aku aja dituntun sama tongkatku yang bernama Sabar. Hahaha…

“Pulang buk!” aku baru saja sampai dirumah. Ketika menginjakkan kaki kananku di teras depan rumah, hidungku mencium harum yang tak biasa, semacam parfum laki-laki, tetapi berbeda dengan parfum yang sering digunakan pak Rinto. Aku tahu dia sedang menatapku.

“Halo Lita…” benar dugaanku. Dia adalah seorang pria dan dia sedang tersenyum ketika mengatakan itu. Kemudian ibu datang.

“Lita uda pulang? Ini anak ibu yang selama ini di Amerika, namanya Dion. Dia juga sekolah disana.

“Gilak! Dia pasti pintar, apalagi bahasa inggrisnya, ah tapi dia nggak seluar biasa seperti kami” pikirku dalam hati.

“Oh.. hai Dion..” aku menjulurkan tanganku tepat ke arahnya. Dan dia menjabat tanganku dan itu sangat membuat hatiku berdegup kencang. Apa iya aku segugup ini sama orang  pintar. Lantas aku langsung masuk, dan menuju kamarku. Kututup pintu kamarku dan aku menelungkupkan tubuhku di tempat tidur, persis seperti yang dilakukan gadis-gadis di FTV yang sering ditonton mama dulu. Hahaha jadi keingat sama mama lagi. Kemudian aku sadar, bahwa aku punya banyak PR.

“Ayo semangat Lita! Jangan bermalas-malasan!” kataku dalam hati.

Aku punya cita-cita untuk menjadi psikolog. Ntah mengapa, walaupun aku tidak melihat, tapi aku dapat merasakan dan mengetahui ekspresi orang saat berbicara denganku. Sahabatku Eva, seorang manusia biasa, pernah curhat kepadaku dan aku memberinya beberapa solusi yang memungkinkan menurutku. Eh, ternyata beberapa hari kemudian dia datang kepadaku katanya, “Lita kamu bisa jadi psikolog!” Psikolog itu apa, aku aja gak tahu.

“Nggak ah, psikolog itu emangnya apa? Itu kan pekerjaannya manusia biasa seperti kalian” jawabku

“Nggak ada yang mustahil Lit, psikolog itu.. Emm gimana jelasinnya ya? Oh kamu ingat kan pas aku curhat sama kamu? Trus kamu kasi solusi ke aku, eh tau-taunya solusi itu berhasil loh Lit, nah begitu lah tugas psikolog, mereka itu tugasnya ngasi-ngasi solusi ke kita” ujar Eva

Mataku langsung berbinar-binar tak percaya, apa iya aku punya bakat seperti itu.

“Tapi apa mungkin seorang luar biasa seperti aku jadi psikolog?”

“Jangan bilang gitu dong Lit, Tuhan itu uda punya rencana yang indah buat kamu denga talenta yang ada dalam diri kamu” jawab Eva.

Ya, itulah mimpiku dan cita-citaku menjadi psikolog yang hebat. Haha, mudah-mudahan ada sekolah psikologi buat yang tuna netra seperti aku ini.  Aku seorang tuna netra yang tidak dapat merasakann indahnya masa remaja seperti yang lainnya.

Keesokan harinya tak tahu apa yang salah dengan mas Doni, dia tiba-tiba menyatakan cinta kepadaku. Jujur aku senang sekali, sejak pertama kali bertemu aku sudah sangat dan sangat menyukainya, tetapi mengapa secepat itu? Kami baru saja bertemu beberapa minggu yang lalu. Dan kami tidak begitu dekat dan jarang berkomunikasi. Tetapi sangat penasaran dengan yang namanya pacaran yang dilakukan orang-orang seumuranku. Aku ingin merasakannya. Dan aku dapat merasakan ketulusan mas Dion dari nada suaranya ketika dia mengatakan itu kepadaku. Tapi mengapa dia mencintaiku? Aku kan buta! Tetapi tak lama kemudian aku mendengar perkataan keluar dari mulut mas Dion, yang membuat hatiku gempar.

“mungkin kamu merasa aneh mengapa tiba-tiba aku nyatakan cinta padamu. Padahal kita belum lama kenalan, dan kita juga jarang berinteraksi satu sama lain. Hmm, sebenarnya selama ini aku lah yang selama ini mengirimkan surat braille kepada kamu. Aku sejak lama telah mengenalmu Lit, hanya saja kamu tak menyadari kehadiranku dirumah ini. Aku cinta samamu Lit.” kata Dion

Sumpah saat itu aku benar-benar terkejut dan tak menyangka kalau surat braille itu dari mas Dion, karena surat itulah aku dapat bertahan sampai saat ini. Aku memiliki semangat hidup karena surat itu.

Akhirnya kami pun pacaran. Pacaran itu ternyata indah. Aku baru menyadari apa alasan remaja-remaja seperti aku  tetap ingin pacaran walaupun telah memiliki mantan segudang. Tapi, tetap saja bagiku tiada yang berarti. Aku tidak dapat melihat wajah pacarku. Aku tidak tau baju apa yang sedang ia kenakan saat bersamaku. Aku  bahkan tidak pernah bisa tau kalau dia sedang melirik wanita lain yang sedang lewat saat kami duduk bersama. Indahnya remaja itu tidak ada. Ingat kataku dilembar awal? Tak pernah ada kebahagiaan yang pernah kurasakan secara utuh. Sejujurnya aku masih saja menangis setiap malam. Aku terkadang takut, akan melewati masa remajaku ini dengan tangisan hingga akhir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s