Where No One Stands Alone

Take my hands, let me stand. Where no one stands alone

Kalimat diatas merupakan sepenggal lagu yang memberiku kekuatan. Menyadari bahwa aku tak berdiri sendiri merupakan sebuah kelegaan bagi jantungku.

Tak tau. Tak tau harus kemana. Tak tau harus berbuat apa. Segala kekhawatiran itu selalu muncul. Dimalam di mana suara jangkrik terdengar jelas, dentang jarum jam berbunyi, aku bisa mendengar detak jantungku pula. Malam itu angin pun bersuara, tak tau bintang apa kabarnya, yang jelas mereka selalu ada di sana. Ya disana. Kegelisahan itu. Pikiranku mulai tak karuan. Dekapan langkah jelas terdengar, gesekan tiap partikel menambah kerusuhan malam, dan suara yang menghantui.

Hari yang cerah. Aku masih tidak mengingat begitu jelas apa yang terjadi semalam. Aku merasa psikisku sudah mulai rusak. Tak jarang aku merasakan hal-hal aneh dan pikiranku selalu melayang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini rasa takutku yang berlebihan?

Siang itu aku memutuskan untuk pergi ke kota kecil dengan bersepeda, setidaknya butuh melampaui jarak 4 km dengan waktu setengah jam. Seperti biasanya, aku tanpa tujuan. Mengelilingi kota kecil itu tidaklah memakan waktu lama namun selalu banyak yang terjadi. Kota kecil itu masih belum begitu berkembang. Di pinggiran jalan terlihat banyak anak-anak berseragam putih-biru dongker sedang berjalan dengan tawa di wajah mereka. Entah apa yang membuat mereka tertawa saat itu. Aku menatap mereka dengan tatapan yang sangat aneh. Di sisi jalan yang lain terdapat penjual buah-buahan yang selalu memikat mataku. Mengapa tidak? Buah-buah yang dipamerkan itu adalah buah-buah hedonis buat keluargaku, padahal mereka adalah kesukaanku. Keluargaku hanya dapat memakan pisang setiap harinya, itu pun yang dipetik dari kebun titipan saudara. Memikirkannya saja cukup membuatku tersenyum sinis. Tapi kabar baik, buah-buahan itu tidak merasa enggan ditempeli oleh debu kendaraan perkotaan yang membuatku kehilangan selera berkhayal.

Kukayuhkan terus sepedaku itu walau terik matahari ingin memaksaku untuk berhenti. Disana ada jembatan yang sangat dekat dengan laut. Tapi pemandangannya sudah tak layak lagi. Banyak pula permukiman kumuh yang berjejeran di tepi pantainya. Spontan aku bertanya apa yang mereka lakukan disana? Tanpa sadar aku meremehkan kondisi mereka yang berkekurangan. Ya, selagi tidak ada yang tau kondisi keluargaku saat mengendarai sepeda ini. Aku bisa saja membuatku terlihat seperti orang yang punya duit dengan tampang yang tak buruk-buruk amat ini. Aku punya banyak teman dekat yang memiliki kemegahan, jadi setidaknya gaya hidup mereka bisa aku tiru untuk beberapa menit saja. Gampang saja, misalkan takut kotor, beli makanan mahal, beli minuman ngehits di iklan…

Aku memutuskan untuk pulang setelah tak tau harus kemana lagi. Sebelum pulang aku mampir di toko dvd bajakan. Aku mencoba mencari dvd drama yang terbaru. Aku sangat menyukai drama karena ceritanya yang tak habis-habisnya, tapi bukan berarti aku tidak menyukai film. Akhirnya aku memutuskan membeli dua dvd film yang sebenarnya tidak baru, hanya saja aku belum pernah menontonnya disaat teman sepantaranku telah menontonnya sejak sekolah dasar. Hm aku tidak tau apakah orangtuaku tidak ingin membelikan dvd player karena akan mengganggu konsentrasiku belajar atau karena tidak ada uang. Aku belum bisa membeli dvd drama terbaru itu karena berisi 7 kaset yang tiap kasetnya dihargai tujuh ribu rupiah. Haha

Saatnya pulang ke rumah. Aku memilih jalur yang berbeda dengan jalur keberangkatanku tadi. Jalur ini memiliki banyak pohon-pohon besar yang berdiri berdampingan. Aku suka iklim ini! Aku memperlambat dayungan sepedaku serasa ingin berlama-lama di sepanjang jalan itu. Tidak banyak kendaraan lewat membuat jalan ini adalah satu-satunya jalan favoritku di kota itu.

Di pinggir jalan untuk pertama kalinya aku melihat perpustakaan. Wow! Mantap! kataku. Kota ini akhirnya punya perpustakaannya sendiri. Gedungnya cukup aneh, ternyata karena itu bagian dari kantor. Disekeliling perpustakaan itu banyak para orang-orang berseragam dengan gaji yang terjamin sedang bekerja, ada pula yang sedang bercandaria. Perpustakaan serasa dunia buatku. Aku selalu nyaman berada di perpustakaan. Namun, hari itu aku baru sadar jelas bahwa aku menyukai perpustakaan bukan karna aku kutu buku. Aku suka suasananya yang hening dan sepi serta bau buku. Aku bukan kutu buku tapi aku sangat suka membaca banyak buku selembar dua lembar saja. Aku cukup cepat tertarik dengan buku tapi cepat merasa bosan. Haha aku tertawa kecil saat membaca lembaran pada buku kesepuluh yang hari itu aku pegang.

Rasa gelisahku datang kembali. Malam itu dengan sadar aku kembali mengikuti rutinitas menjelang tidur keluargaku. Sesaat rasa gelisah itu hilang…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s