Behavioural Geography – Sebuah Pengantar

Behavioural Geography atau Geografi Perilaku merupakan salah satu cabang ilmu dalam Geografi Manusia (Human Geography). Behavioural Geography ini dapat pula dipelajari dari ilmu psikologi yang disebut Environmental Psychology. Behavioural Geography ini sangat berkaitan dengan man-environment theory. Relasi antar manusia dengan lingkungannya dalam suatu ruang menjadi fokus dari disiplin ini. Tiap manusia memiliki respon yang berbeda dengan manusia lainnya pada ruang yang berbeda pula. Pada prakteknya, decision-making dari tiap individu adalah salah satu bentuk nyata dari behavioural geography.

Pengambilan keputusan oleh individu terhadap lingkungannya dipengaruhi oleh motivasinya. Sebelum itu, terdapat istilah yang penting dalam geografi perilaku yaitu kognisi dan persepsi. Kognisi merupakan istilah yang luas dari persepsi. Persepsi merupakan proses kognisi. Motivasi merupakan usaha yang membawa ¬†manusia untuk mencari hasil tertentu untuk mencapai kebutuhannya. Motivasi sangat terkait dengan teori kebutuhan. Teori kebutuhan terdiri dari dua kategori, dimana motivasi muncul atas hasrat untuk mengatasi stress yang ada di lingkungannya dan saat motivasi muncul atas hasrat terhadap hal-hal yang baru (novelty). Terdapat pula bentuk-bentuk kebutuhan yang selalu memengaruhi motivasi manusia seperti “survival needs” (makanan dan rumah yang ketiadaannya menyebabkan kesulitan fisik), “social needs” (kebutuhan berinteraksi dengan kelompok sosial, kebutuhan diterima dan disadari dalam kelompok), dan “personal needs” (pemenuhan self-images). Social needs dan personal needs dipelajari oleh manusia sejak masa kecilnya dan ketiadaannya biasanya menyebabkan penderitaan mental. Motivasi menghasilkan emosi. Hal lain terdapat sikap (attitude) yang biasanya dipengaruhi oleh sistem kepercayaan, doktrin, ideologi, pendapat, stereotype, dan nilai yang telah dipelajari oleh individu sejak kecil.

Environmental Behaviour dipengaruhi oleh paham-paham environmentalism. Environmentalism memperhatikan relasi manusia dengan lingkungannya. Manusia dipengaruhi oleh perilakunya (behaviour) dan lingkungannya dipengaruhi oleh kontrol manusia (human control). Friedrich Ratzel merupakan ahli physical determinism dimana memandang manusia memiliki hasrat bertahan hidup dengan beradaptasi dengan lingkungan dimana caranya di setiap bagian ruang di bumi berbeda-beda (terdapat variasi spasial). Ratzel menuliskan buku berjudul Anthropogeographie dan Regional Geography of Germany yang menunjukkan ketertarikannya yang lebih terhadap geografi manusia dibanding geomorfologi seperti para geografer di zamannya. Pada bukunya yang berjudul Regional Geography of Germany, dia berpendapat bahwa perbedaan budaya (culture diffrencies) jauh lebih penting dibanding variasi karakteristik lahan (fisik). Namun pandangan-pandangan ini menuai kritik dan ditentang oleh para possibilism.

Walaupun begitu, terdapat banyak ahli yang memiliki ketertarikan pada relasi man-environment. Immanuel Kant menuangkan pemikirannya melalui mental map, Carl Sauer memandang perbedaan kejadian masa lampau pada permukaan bumi dapat menjelaskan perbedaan sosial dan budayanya, J.K. Wright sangat terkenal dalam pemikirannya tentang terrae incognitae serta idenya tentang geosophy, William Kirk seorang historic geographer, dan Gilbert White yang tertarik dalam bencana alam (natural hazard).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s