Dosa di Hari Siang

Berabad berlalu. Siang adalah malam, malam adalah kekelaman.

Orang-orang senang membunuh, memamerkan kekuatannya. Skala kekuatannya diukur dari berapa darah yang telah ia tumpahkan, berapa nyawa yang ia hanguskan dengan angkuh. Orang rendah ditakdirkan untuk dibunuh dan tak bersuara. Mereka dilahirkan seakan bahan pelengkap kenikmatan hidup para orang besar. Kesalahan mereka adalah jalan kematian.

Ada pula orang yang hidup biasa-biasa saja. Mereka enggan membuka mata kepada orang rendah dan takut membuka mulut kepada orang besar. Mereka senantiasa diatur atas perintah dari atas tak tau benar atau salah. Mereka hanya berharap untuk hidup dengan tenang sebelum kematian menjemput mereka.

Sembah-sembahan mereka haturkan kepada alam yang berjiwa. Alam yang penuh kuasa. Alam tidak segan meluapkan amarahnya ketika mereka “nakal”. Tidak tanggung-tanggung. Muntahan bara api, hujan tombak, goncangan bumi, dan serbuan air adalah maut bagi mereka.

Tak sedikit dari mereka yang hidup pula dalam kerakusan. Orang besar, orang biasa, orang rendah dihantui oleh ketamakan. Tak ada satupun yang meragukan nikmatnya emas kala itu. Tak sedikit dari mereka terpaksa merampas barang sesamanya sebagai pemuas nafsu.

Anak mereka tak lain adalah darah-daging mereka. Tak heran anak mereka membunuh orangtuanya, -pembunuh. Tak heran anak mereka menjadi pencuri-pencuri di malam sepi kala tak ada yang berjaga. Tak heran anak mereka menjadi pembunuh-pembunuh anak yang lain.

Berabad lamanya ketika akhirnya siang pun tiba. Siang adalah siang, malam adalah malam.

Siang melahap segala kusta bumi. Kusta itu tak bisa menyebar lagi. Akarnya telah tercabut oleh gigi-gigi tajam Sang Siang. Kekelaman pun tak mau diam. Dia ikut bertarung sampai akhir. Dia tidak mau kerajaannya diambil dari kekuasaannya. Dia selama ini sudah merasakan kenyamanan yang sangat sampai ia tak tahan merasakan rasanya dipukul secara halus. Dia memberontak. Dia menggeram. Siang dan malam sangatlah sengit, hingga muncullah sang gerhana. Saat itu semuanya terdiam, tak bergerak, sangat sunyi. Partikel halus debu berhembusan ditiup angin dan terdampar diujung bayangan.

Siang adalah siang, malam adalah siang.

Hari itu siang. Orang-orang semakin banyak jumlahnya. Orang-orang sangat baik satu sama lain. Tidak ada permusuhan, perampasan, apalagi pembunuhan. Siang, pekerjaanmu sungguh mulia mencabut segala kusta bumi.

Oh! Apa yang kamu perbuat? Tidakkah kau tau, ini kerajaannya Sang Siang? Beraninya kamu menodai puan itu! Mengapa aku tidak? Dia saja mendapatkan jabatannya dari hasil sogokan! – oh tidak, jauh disana sang malam sedang menata serambinya sambil menatap masa depan. Akar kusta bumi tidak tercabut sepenuhnya- anak-anak akar itu masih terikat dalam tanah.

Tetap saja ini adalah siang. Hari siang dimana dosa tidak diperkenankan bergurau. Namun, aku pun siang ini berdosa.

Siang adalah siang, malam maukah kau menungguku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s